H. Noor Chamim, LC, P.Gd : Sanad keilmuan ulama atau guru TBS jelas dan bersambung sampai Rasulullah SAW

mts.madrasahtbs.sch.id, Kajeksan (23/4) – Sehari sebelum peringatan Harlah NU Ke 93 tepatnya Sabtu Pon (23/4/2016) Pimpinan Komisariat IPNU MTs NU TBS Kudus menggelar Halaqah Bekal Aswaja dengan mengangkat tema “Meneguhkan ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah Annahdhiyyah dalam kehidupan masyarakat”.

Hadir dalam acara ini H. Noor Chamim, LC. P.Gd, H. Noor Habib, S.Pd.I, Arif Musta’in, M.Pd.I, Ahmad Irkham, S.Pd.I, M. In’amullah, S.Pd.I, dan Faisol Arijuddin selaku nara sumber dengan peserta terdiri dari perwakilan 32 lokal kelas dari kelas 7 sampai 9 di Gedung Lantai 3 MTs NU TBS Kudus dari menyampaikan kepada siswa yang hadir bahwa santri madrasah TBS patut bersyukur karena diberi anugerah oleh Allah dapat menimba ilmu pada masyayikh TBS yang sanad keilmuannya jelas dan bersambung sampai Rasulullah Muhammad SAW.

“Fenomena yang terjadi di zaman serba instan akhir-akhir ini adalah kecenderungan belajar secara instan. Dulu orang belajar atau ngaji bertahun-tahun untuk bisa ceramah selama 2 jam. Sekarang orang baru belajar 2 jam saja sudah bisa ceramah bertahun-tahun. Sehingga tiap ceramah materi yang diangkat hanya seputar kafir dan bid’ah saja.” Ahmad Irkham menambahkan.

In’amullah mensinyalir bahwa gerakan takfir dan kelompok-kelompok radikalisme sudah menguasai kota-kota besar dan sekarang mulai merambah di wilayah kantong-kantong warga NU. Sebagai warga NU harus waspada terhadap gerakan radikalisme serta aliran baru yang terindikasi sesat. Dengan merapatkan barisan shaf masjid secara otomatis mempersempit ruang gerak mereka. Arif Musta’in juga mengingatkan untuk tidak hanya menjadi NU kultural tapi harus masuk dalam NU struktural sesuai dengan usia, jenis kelamin dan jenjangnya. Karena untuk meneguhkan ideologi ahlussunnah wal jama’ah an nahdhiyyah serta membentenginya dari rong-rongan faham radikalisme, sekulerisme dan liberalisme butuh organisasi yang bagus dan kuat.

Islamphobia yang terjadi di dunia barat pada awalnya bermula dari tindakan teror oknum Islam dan dimanfaatkan media barat yang tidak senang Islam dengan menampilkan wajah buruk umat Islam sehingga masyarakat barat phobia dengan segala yang berbau Islam. Dalam pandangan mereka Islam itu kejam, tidak berperikemanusiaan dan tidak bisa untuk diajak hidup berdampingan.

Menjadi tugas seluruh komponen pelajar NU untuk menyampaikan kepada dunia lewat berbagai media tentang sifat dan kepribadian Islam yang sebenarnya. Islam yang simpatik, islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *